Jumat, 25 Agustus 2017

Eun-Nci

Eun-Nci, sok sok gadis polos, terlihat jutek dan galak kalau baru kenal. Berasal dari planet serang, planet terdekat dari kota Jakarta. Gue ga ngerti kenapa tiba2 nulis tentang ini org. Tiba2 gue baper pas mutar rekaman karaoke gue bareng dia waktu nyanyiin lagunya samson berjudul akhir rasa ini apalagi bagian lirik "tak akan terganti setiap kenangan yg telah terukir yg terendap indah dan melekat di hati". Ya benar kenangan gue bareng enci nggak akan terganti. Nci adalah teman ngebolang, sahabat suka duka gue 2 tahun belakang. 1 tahun pertama gue di sipil rasanya gelap, gue nggak punya teman dekat. Semester 5 gue nemu nci di bangku depan mata kuliah geometri jalan, jadilah kita slalu duduk barengan paling depan dan belajar bareng, sampai kp bareng, banyak banget yang kita lalui, pernah nangis bareng meratapi nasib di sebuah angkringan cisitu lama, pernah ketawa bareng, pernah perang sama cowok ganjen, sering nimbrung cari makan enak dan gratis di kampus, pernah saling nularin flu. Kalau udah bareng nci, lupa banget sama waktu.

Semester akhir semenjak TA melanda, gue ngerasa jaih dari nci, kita masing2 sibuk sama masalah TA. Kita jadi jarang main, jarang kayak dulu lagi. TA nci pun kelar dia wisuda duluan. Gue sempat sedih bgt, nci bakal pindah ke Serang. Ternyata benar, gue ngerasa di tinggalin. Tapi memang begitu harusnya, kita harus melanjutkan hidup, nci nggak mungkin masih berkutat di kampus hanya untuk nemanin gue. Dia juga punya cita cita dan tujuan hidup yg dia capai. Maafin gue nci sering berburuk sangka.

Minggu kemaren gue ke serang, ke rumah nci. Gue kembali bisa bareng dan pergi main bareng, gue kembali ngerasain suasana dulu saat masih berpetualang sama nci, dimana hari2 gue penuh warna. 3 hari gue di serang. Pas balik gue sedih, gue ngerasa sepi di kos. Ah nci, maafin gue baperan kayak gini, karena lo sahabat yg berarti banget buat gue. Walaupun kita jauhan tetap keep kontak ya, semoga gue bisa terbiasa tanpa lo. Semoga kita bisa menggapai mimpi kita masing2 amiiin.

Senin, 21 Agustus 2017

Merantau dan Kembali pulang

Merantau dan Pulang, adalah 2 kata yg selalu ingin ku gandengkan. Ketika aku merantau, aku ingin kembali untuk pulang.

Tidak di pungkiri bahwa keluarga adalah tempat ternyaman pulang, terutama bagi anak perempuan. Karena di dalam keluarga lah terkumpulnya perhatian dan kasih sayang.

Orang Minang terkenal dengan kebiasaan merantau nya, mereka ingin mengembangkan ekonomi dan kemampuan hidup di sana.

Aku salah satu org yang minang yg merantau, meninggalkan kampung halaman demi sekolah di salah satu perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia, yaitu di Bandung.

Rantau mengajarkanku banyak arti hidup. Pergaulan yang sudah heterogen. Membiasakan lidah dengan makanan lain selain masakan padang. Itu semua telah kurasakan 4 tahun ini.

Aku bimbang antara ingin pulang atau tetap di rantau untuk bekerja. Jika bicara nyaman, mungkin dalam hati sebetulnya aku ingin di rumah santai bersama keluarga. Dan hidup dari penghasilan ayah. Tapi sayang disana mungkin agak sulit mendapatkan pekerjaan. Idealnya aku memang ingin jadi PNS, bekerja di PU. Jadwal kerja teratur dan masih bisa bersama orang tua. Memang itu yang ku usahakan sekarang.

Sebagian orang mungkin ingin memperpanjang langkahnya lebih jauh dari rumah. Kuliah atau menetap di luar negeri.

Saat ini aku merasa jika aku semakin jauh dari orang tua tanpa pendamping aku tidak tau harus bagaimana. Sedangkan di bandung saja, semenjak Tugas Akhir, hampir setiap hari aku mengeluh masalah tugas akhirku. Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa impian terasa hambar.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Ridhonya Allah dari restunya Orang Tua

Kali ini aku akan bercerita banyak tentang pentingnya mendapatkan restu orang tua, based on pengalaman pribadi.
Ada satu yang nggak beririsan langsung dengan logika kita, yaitu restu orang tua. Mungkin di tv-tv kita sering melihat anak yang nggak di restui tindakannya oleh orang tua banyak yang pada akhirnya sengsara. Dulu aku selalu beranggap kalau itu hanyalah fiktif belaka, atau kebetulan.

Dari dulu aku anak yang patuh dan menurut apa kata orang tua. Bisa di bilang aku jarang sekali menyakiti hati orang tuaku. Aku tidak pernah protes dengan berapapun uang jajan yang tuaku kasih. Bahkan aku ingin membantu mereka. Aku senang membawakan belanjaan ibu di pasar dan membantu ibu di dapur. 

Aku tetaplah seorang anak, dan juga manusia biasa. Ada kalanya aku khilaf. Sebelum semester 8, saat libur semester aku pulang. Yang namanya orang tua, semakin bertambah umur, banyak sakit di badan, nyinyir dan perasaannya sensitif. Saat itu ayah tidak ada di rumah, ibu sudah badmood sedari tadi pagi mulai dari tetangga yang menyebalkan, dan adikku yang tidak membantu pekerjaan rumah. Seharian itu ibuku penuh sindirian terhadap aku dan adikku, hari itu aku bangun kesiangan, karena pola tidurku yang rusak gara-gara sering begadang akibat tugas besar. Sampai akhirnya saat malam aku kesal, dengan ibuku yang nadanya juga kesal, saling beradu mulut, sampai akhirnya saling menyakiti. Esoknya aku pergi dari rumah,aku pergi ke rumah nenekku lebih seminggu. Akhirnya aku kembali ke rumah untuk berkemas ke bandung. Sebelum pergi aku sempat minta maaf dan berbaikan dengan ibu. Aku memasuki semester baru, akademikku baik-baik saja, hubunganku dengan ibu baik-baik saja.

Waktu berjalan begitu cepat tak terasa berlalu sudah 5 bulan. Teman-temanku sudah sidang. Sedangkan kelompokku masih juga belum seminar proposal. Begitu sulit mengumpulkan ke 5 dosen. Waktu terus berlalu, libur pun telah tiba, aku pulang tanpa membawa gelar sarjana. Di rumah aku lebih tenang. Aku tetap mengerjakan laporan tugas akhirku. Bahkan sampai jam setengah 3 pagi. Jam 3 pagi aku memasak sahur untuk ibu dan adikku, setelah subuh aku baru tidur. Ibu selalu memaklumi jika aku kesiangan karena kurang tidur. Tetapi aku tetap membantu membersihkan rumah, dan memasak.

Aku kembali ke bandung untuk menjalani seminar progress. Akhirnya berjalan lancar. 

Sidang TA masih belum bisa. Rekan sekelompokku masih ada yang belum selesai. Banyak dimensi dari mereka yang berubah, lagi-lagi itu berpengaruh pada hasil pekerjaanku. Dan perhitungan TA ku harus di revisi setiap saat.

Bulan agustus pun di mulai, kelompokku harus merencanakan sidang sedini mungkin, mengingat kebiasaan dosen-dosenku yang setiap saat kemana-mana, minggu depan ke Mars, minggu depannya lagi Baru balik dari black hole, ku sudah lelah dengan hal semacam ini. ketua dosen pun akan pergi haji, dan sudah cuti tanggal 20. Tidak ada jadwal dosen yang beririsan. Ku sudah hopeless. Aku nggak mau wisuda april. Aku menangis, kesal dan marah dengan kenyataan. Aku menelfon ke org tua ku,menjelaskan kondisi TA ku yang berantakan. Aku benar-benar lelah. Sudah begitu banyak energi yang ku kerahkan agar TA ini cepat selesai.

Aku kembali tersadar, mungkinkah ini karena masalahku dulu dengan orang tua?? .




Minggu, 30 Juli 2017

Menabung dan Segala Macam Manfaatnya

Banyak orang yang merasa kesulitan untuk menabung. Apalagi di era modern ini semuanya di jajakan di depan mata lewat dunia maya. Membuat masyarakat menjadi semakin konsumtif. Siapa yang tidak ngiler dengan barang-barang bagus, dan bermerk. Media online membuat orang yang awalnya tidak ada niat belanja menjadi belanja. Mungkin beda dengan dulu, dulu untuk belanja orang menyediakan uang dulu, baru ke toko atau ke pasar melihat barang-barang yang di inginkan baru, jika cocok baru membeli.

Tak ada masalah dengan keberadaan media online. Media online justru memberikan kita lebih banyak pilihan dan mempermudah mencari apa yang kita inginkan. Tapi yang penting adalah membeli barang sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan saja.

Menabung, seberapa penting sih menabung?

Baik, saya akan bercerita tentang laptop kesayangan saya ber merk Asus dengan processor Intel 5 dibeli seharga 7 juta. Laptop ini saya beli dari hasil tabungan saya dari hingga sma. Pas kuliah saya kesulitan menabung karena pengeluaran akademik saya sangatlah tinggi, baru bisa menabung lagi setelah semester 6 dengan bekerja freelance. 

Dari TK saya tinggal bersama nenek. Keluarga ibu saya adalah keluarga petani dan sekaligus berdagang. Kakek saya memiliki usaha penggilingan padi, berladang, berkebun, sekaligus memiliki kios penjualan beras secara eceran maupun grosiran. Karena tinggal bersama mereka, saya pun sering menjadi bagian logistik dari usaha mereka, seperti menjual biji coklat, menjaga kios minyak dan beras, menjaga jemuran padi, menjual telur angsa dan ayam, bahkan jadi tukang kasih makan ternak sekaligus selain itu juga menjadi tukang tagih hutang pada konsumen. Setiap usai pekerjaan itu, kakek selalu memberi saya semacam reward uang jajan.

Uang saya pun terkumpul. Dari kecil saya tidak terbiasa meminta uang jajan atau minta beli mainan. Jikalau saya memiliki mainan, itu atas inisiatif orang tua yang membelikan atau saya yang membeli mainan dengan uang saya sendiri. Uang yang saya kumpulkan saya titip ke kakek, dan dijadikan modal usaha lagi. Setiap bulannya uang yang saya titipkan diberi tamhan 5% dari modal. Itupun bukan saya yang memintatapi kakeklah yang secara suka rela memberinya.

Kelas 5 sd, saat itu musim sekali anak membeli kertas binder dan bindernya. Jadilah saya saat itu menjadi penjual kertas binder di sekolah, serta menjual buku binder dengan cicilan pun. Sambil menjual biji coklat biasanya saya juga membeli kertas binder yang akan saya jual. Penjualan saya pun cukup banyak, sampai adik kelas dan tetangga-tetanggapun membeli. 

Ketika SMP binder sudah tidak menjadi tren lagi, pekerjaan saya pun beralih menjadi pengajar les, tukang ketik soal ujian, tukang jaga warnet, dan hasilnya kembali saya tabung. Ketika kelas 2 SMP kakek pun meninggal. Uang hasil penjualan binder dan uang logistik bekerja dengan kakek saya tabung ke ibu. Dan ibu membekukannya dengan membelikannya dalam bentuk emas. Setiap tahunnya harga emas selalu naik, dan nilai rupiah tabungan saya pun juga ikut naik.

Dari kecil saya memang bukan tipe anak senang jajan atau membeli hal yang tidak perlu. Sampai sekarang pun kalau diajak ke bioskop saya tidak suka, buang2 uang saja. Bukan berarti saya tidak pernah menonton di bioskop. Saya lebih suka jalan-jalan, karena itu memang hobi saya.

Bagi saya sendiri menabung tak harus rutin. Saya menerapkan cara menabung seperti ini. Misalkan saya mendapat tambahan uang dari hak jajan saya, maka itu akan di ambil sebagai tabungan. Atau juga bisa, saya menabung dari penghematan yang saya lakukan. Misalkan saya berangkat ke kampus dengan jalan kaki, karena saya jalan kaki artinya saya tidak mengeluarkan ongkos, maka uang tersebut masuk dalam bentuk tabungan. Misalnya juga, jatah makan saya dalam 2 hari adalah 60 ribu. Karena saya meluangkan waktu untuk memasak, sehingga pengeluaran saya hanyalah 20 ribu untuk 2 hari. Maka, 40 ribu sisanya menjadi tabungan.

Dengan cara tersebutlah sampai sekarang saya bisa membeli apa yang saya mau. Karena saya tidak terbiasa meminta atau merengek pada orang tua. Dan orang tua saya memberi saya uang jajan tanpa saya memintanya. 

Berhemat bukan berarti pelit. Hemat adalah cara menghindari kemubaziran dan melakukan sesuatu pada tempatnya. Keadaan hidup dari kecil membuat saya harus membiasakan diri hidup hemat. Saat saya masih kecil orang tua saya membeli 1 petak rumah dengan mencicil setiap bulannya, saya sering sakit-sakitan karena daya tahan tubuh lemah. Gaji ayah setiap bulan habis untuk berobat dan mencicil rumah. Ketika berumur 5 tahun, kantor tempat ayah bekerja bankrut, dan ayah di PHK. Akhirnya ayah bekerja serabutan, jadi fasilitator, pengawas proyek dan sebagainya. Ekonomi keluarga kami merosot parah saat ayah mengganggur 1 tahun, dan sakit. Kami hidup dari uang tabungan selama ayah bekerja, ibu pun membantu perekonomian dengan gaji honorer nya sebagai guru smp tidak seberapa di tambah dengan menjual beras. Setiap ayah bekerja ibu selalu menyisihkan uang dapur untuk menabung. Kondisi proyek yang musiman, membuat ibu menjadi was-was dengan keuangan. Aku pun sebagai anak ikut mengerti, hal itu membuat aku tidak pernah meminta ini itu kepada orang tua selain kewajiban mereka seperti membayar uang masuk sekolah dan uang jajan atau ongkos sekolah. Di luar itu seperti beli hp pun tidak aku minta. Di sekolah pun aku tidak pernah les, aku hanya cukup belajar sendiri dari buku di perpustakaan. Kadang-kadang aku mendapat beasiswa waktu SMP, karena berhasil menjadi juara umum. 

Ketika SMA pun aku mencari SMA yang tidak membayar SPP dan tetap bagus. Seperti SMA ku dulu, SMA 1 Pariaman. Ketika kuliah di biayayi kuliah full 4 tahun dan mendapat biaya hidup. Aku merasa beruntung, aku menjadi salah satu anak yang tidak mampu, tetapi Allah memberikan kecerdasan yang bisa menunjang pendidikanku dan diperhatikan pendidikannya oleh pemerintah. Semenjak aku kuliah pun ekonomi keluargaku membaik, ayah tidak pernah lagi menganggur, dan rezeki tak terduga kadang juga sering datang. Dan alhamdulillah dengan menabung dan berhemat hidup kami tidak pernah meminjam uang dan dililit hutang.

Begitulah the power of saving pemirsa. 













Sabtu, 08 Juli 2017

Pertemanan nyata vs pertemanan maya

Pertemanan nyata, maksudnya adalah pertemanan yang kita hadapi di dunia nyata, kita berinteraksi langsung dengan orang lain, kita berbicara dan mendengar langsung apa yg mereka sampaikan, kita bisa melihat mimik wajah, gestur tubuh, mendengar nada suara dan kondisi sekitar mereka yang sedang berbicara.

Pertemanan maya, pertemanan yang terjadi akibat perkenalan di dunia maya misal melalui sosial media. Untuk mendapatkan teman di dunia maya sangatlah mudah hanya dengan sentuhan jari pada keyboard atau hp. Meskipun kita bisa mendengar langsung, melihat gestur langsung dari teman maya, namun tetap saya peetemanan di layar hp dan nyata akan sangat berbeda dampaknya.

Ketika kita tidak suka dengab pertemanan maya kita bisa saja memblok, menghapus pertemanan, dan lupakan. Tetapi lain dengan pertemanan nyata, ini sangatlah sulit, suka tidak suka, tidak bisa di blok begitu saja, mungkin bisa kita hentikan komunikasi atau urusan, tapi jujur saja ini akan membuat ada rasa tidak enak, bermusuhan, itu tidak akan enak bagi pihak manapun, ya begitulah. Makanya kita terkadang harus berhati hati dalam bercanda, berhati hati dalam bertanya, berhati hati dalam menggunakan lidah, lidah ini sangatlah tajam, sangatlah sulit mengontrolnya. Karena sasarannya adalah melukai hati dan perasaan orang lain. Begitupun kita, kita jugalah harus santun dan paham bahwa janganlah terlalu berlebihan menanggapi perkataan orang lain, tidak semua hal yang tidak enak di dengar itu maksudnya buruk, sering kali suatu maksud perkataan menjadi buruk karena cara penyampaiannya buruk. Menjadi pelajaran bagi kita agar berhati hatu dan memilih kata2 dan cara yang tepat untuk menyampaikan maksud kepada orang lain.

Hal yang mampu memnjaga hubungan dengan orang lain selain menahan lidah baik pada pertemanan maya maupun nyata adalah sabar. Banyak orang yang rusak hubungannya dengan orang lain akibat tidak adanya rasa sabar. Kadang memang sering terjadi hal yang menjengkelkan seperti berjanji datang terlambat, tidak cepat memberi kabar, tiba tiba naik darah. Tapi rasa jengkel dan kesal itu hanyalah emosi sesaat, tahanlah, ucapkan istighfar, kejadian kejadian terjadi adalah atas izin Allah. Contohnya mereka terlambat ketika berjanji, ya itu atas izin Allah. Disini bukan bermaksud mengatakan bahwa Allahlah yang salah, tetapi sama sama kita ketahui, Allah maha berkehendak, maha mengetahui, maka tidak ada daya dan upaya kita melawan ketentuan dan kehendak Allah.

Sebagai Makhluk Sosial

Manusia di ciptakan bukan hanya sebagai makhluk individual tetapi juga makhluk sosial, karena manusia akan membutuhkan manusia yang lainnya. Kemampuan setiap orang menjalani kehidupan sosial dan kehidupan pribadinya akan berbeda beda. Berbeda lingkungan yang membentuk, berbeda pula kharakternya. Ada manusia yang cepat dewasa ada pula yang tidak. Perbedaan itu akan tetap rukun apabila ada pihak yang saling mengimbangi. Misalnya dua org sahabat akan tetap terus bisa bersahabat apabila 2 orang itu saling mengimbangi. A dan B bersahabat, A egois, B mengerti dengan ke egoisan A. Maka 2 orang ini akan tetap utuh, tapi B punya batas kesabaran, B sesekali menyadarkan A bahwa ia terlalu egois, cobalah menekan ego. A akan merenungkan perbuatannya, dan merubah sikap.

Ayah selalu bercerita bagaimana harus menjaga hubungan baik dengan orang lain dan menekan egoisme kita. Ya ayah benar, aku ingin menjaga hubungan sosial yang baik dengan orang lain, aku akan berusaha menekan egoku. Ya Allah ampunilah hamba yang mungkin sering menyakiti perasaan orang lain, atau pernah memutus tali silahturahmi dengan orang lain. Mungkin hamba belum dewasa menghadapi permasalahan hidup, mungkin hamba harus banyak belajar. Ya Allah bukakanlah hati orang lain untuk memaafkan hamba, hamba tidak ingin ada kesalahpahaman, kebencian, dan ketidakrelaan orang lain terhadap hamba. Selama ini hamba banyak salah ya Allah.