Senin, 21 Agustus 2017

Merantau dan Kembali pulang

Merantau dan Pulang, adalah 2 kata yg selalu ingin ku gandengkan. Ketika aku merantau, aku ingin kembali untuk pulang.

Tidak di pungkiri bahwa keluarga adalah tempat ternyaman pulang, terutama bagi anak perempuan. Karena di dalam keluarga lah terkumpulnya perhatian dan kasih sayang.

Orang Minang terkenal dengan kebiasaan merantau nya, mereka ingin mengembangkan ekonomi dan kemampuan hidup di sana.

Aku salah satu org yang minang yg merantau, meninggalkan kampung halaman demi sekolah di salah satu perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia, yaitu di Bandung.

Rantau mengajarkanku banyak arti hidup. Pergaulan yang sudah heterogen. Membiasakan lidah dengan makanan lain selain masakan padang. Itu semua telah kurasakan 4 tahun ini.

Aku bimbang antara ingin pulang atau tetap di rantau untuk bekerja. Jika bicara nyaman, mungkin dalam hati sebetulnya aku ingin di rumah santai bersama keluarga. Dan hidup dari penghasilan ayah. Tapi sayang disana mungkin agak sulit mendapatkan pekerjaan. Idealnya aku memang ingin jadi PNS, bekerja di PU. Jadwal kerja teratur dan masih bisa bersama orang tua. Memang itu yang ku usahakan sekarang.

Sebagian orang mungkin ingin memperpanjang langkahnya lebih jauh dari rumah. Kuliah atau menetap di luar negeri.

Saat ini aku merasa jika aku semakin jauh dari orang tua tanpa pendamping aku tidak tau harus bagaimana. Sedangkan di bandung saja, semenjak Tugas Akhir, hampir setiap hari aku mengeluh masalah tugas akhirku. Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa impian terasa hambar.

Selasa, 15 Agustus 2017

2 menit tanpa berkedip gue menatap jam dinding lurus. Tapi tatapan itu kosong sekosong harapan dan kehampaaan harapan kelulusan gue. Detik2 serperti ini sering berulang dalam sebulan gue. Nafas gue terasa tertahan,  jantung gue  berdetak tak karuan. Tak karuan seperti harapan gue yang jatuh dari langit. 
Hal itu terjadi ketika gue harus baca screenshoot pesan dosen pembimbing mereka. Udah nggak ada lagi celah mengusahakan gimana caranya kita 1 kelompok ga bayar ukt. Status kita tetap jadi mahasiswa semester ini, tetap membayar ukt. Gue kecewa semuanya pun kecewa. 


Posible data untuk sidang TA sebelum pak R naik Haji;
Pak R; mau pergi haji, cuti tgl 21
Pak R menginginkan ke 5 dosen harus hadir saat sidang. 
Pak R pengen 1 mahasiswa di sidang 5 dosen
Pak F, cm bisa jumat ini
Pak Ma, masih di luar kota. Kerjaaan nico mesti di periksa dulu baru boleh sidang. Paling cepat bisa di periksa jumat malem. Ga di kasi tau luar kota mana, kalau di jakarta pengen di samperin.
Pak Me, sedang prajabatan. Beliau menitipkan gue ke 3 dosen lain. Sejauh ini baik baik aja. Fast respon kalau gue hubungi. Alasannya tidak di bandung logis karena prajabatan ini untuk dilantik jadi pegawai negeri. Sementara yg lain gue ga tau itu kepentingan apa, gue ngelihat kepentingan pribadi semata. 

Semua solusi dan cara di tawarkan agar kita sidang tgl 18 pada pak R, 14 agustus kita menemui beliau di ruangan sambil menawarkan solusi. "Gimana kepastian jadwal dosen dosen kalian?". " pak Ma tidak bisa menguji kalau jumat jam 2, karena di jadwal yg sama harus menguji mahasiswa s2 dan s3. Kalau sidangnya di majuin pagi barengan kelompok sebelah bagaimana pak?". "Dimajuin bagaimana, mana bersamaan. Kan yang nguji 5 dosen 1 mahasiswa". Beliau marah "ngapain kalian nekan-nekan saya. Kalau gitu kenapa ga abis wisuda aja sidangnya. Suruh aja pak Ma batalkan jadwal sidang mahasiswa lain itu kalau mau sidang jumat. Atau bulan depan aja abis saya balik dari mekah". "Batasnya tgl 29 september pak, bapak kembali tgl berapa". "Tgl 23 saya udah kesini". Kami keluar ruangan terkulai lesu, bagaimana caranya ya?? Apa nego ke anak S3 atau S2?. 

"Gue cabut dulu gan. Udah di tunggu bang R soalnya". 
"Nil, kamu coba ngomong kek tadi apa gitu, kan seangkatan". 
Enil masih mencoba ketawa, tapi gue tau seorang humoris seperti dia akan tetap merasa sedih dan kecewa, apalagi gue. 

"Pada mau kemana abis ini?".
"Aku balik ke kosan sih. Mendekam di kosan abis ini"; ujar ketua kelompok. 
"Aku juga balik deh". 

Akhirnya gue berangkat menuju gerbang depan kampus sambil pesan gojek. Perasaan gue ga karuan, dalam 10 menit sampai di kosan. Gue menengadah diatas kasur. 
Gue diam. Gue kembali teringat, kecil sekali harapan gue sidang agustus. 
Artinya besar kemungkinan gue wisuda april. 
Gue teringat kedua org tua gue di rumah. 
Mereka begitu berharap gue wisuda tahun ini. 
Gue ingat celotehan mereka. "Nanti kita ke bandung pas wisuda ica, kita bawa rendang dari padang". Adik gue dina dia menabung sedari sekarang karena ingin belanja di bandung. Dan gue selalu memantau mantau harga tiket untuk mereka.
Air mata gue jatuh. Dan sebuah pesan wa masuk di hp. Dari ayah. "Baa sidang, jadi tanggal bara". 
"Ndak jadi sidang agustus do yah". 

Tak enak rasanya bathin gue. Gue menelfon ibu, dan menyampaikan kabar buruk itu dengan isak tangis. 
3 jam menelfon ibu hanya untuk meratapi nasib yang sulit berubah. 
Teman2 gue menelfon mahasiswa S3 yg di uji pak Ma, mahasiswa itu membatalkan di uji bapak tsb. Ada sedikit harapan. Gue kembali on di depan laptop. Membuat presentasi sidang. Gue semangat kembali. Kembali dapat chat. Beliau masih nguji anak s2 jam 4. Masih ada harapan sidang 2.5 jam kalau bisa. 
Harapan yang samar samar itu membuat gue semangat dan on sampai jam 2 pagi membenahi TA yg mungkin masih ada terdapat typo dll. 


Pagi pun kembali. Gue terbangun oleh kicauan anak anak pesantren di sebelah kosan. Suara berisik mereka seperti alarm setiap pagi. Gue kembali menghubungi teman2. Da. Tetap mengerjakan presentasi. Ada sedikit yg di revisi. Gue membangunkan niko dg line call, karena dia ga balas chat. Urgent bgt butuh data dpt yg baru. 5 menit kemudian dia terbangun. Menghubungi dosbingnya pak Ma, 
"Jumat aja ketemu saya sore". 
"Hari rabu apa ga bisa pak, soalnya kami mengejar sidang Jumat"
"Rabu saya masih di luar kota. Senin sidang paling cepat". 
Gue menghentikan ketikan di laptop. Benar benar pupus tidak ada harapan lagi. 
Oke bye. 
Gue kembali memberi kabar serupa ke ibu. 
Ibu tidak pernah memarahi atas kegagalan gue ini. Kalau gue ga punya ibu, gue ga tau saat itu harus gimana. Gue berkata pada ibu "ibu, aku malu. Teman teman senagkatanku sudah wisuda semua. Sementara aku di tunda tahun depan. Aku takut september nanti akan terjadi lagi hal yang serupa. Sudah sangat tipis harapan ini bu".

Skripsi

Apa itu skripsi?
Skripsi sering kali dianggap sebagai momok yg menyeramkan bagi banyak mahasiswa?
Kenapa?
Karena menyebalkan.
Sebenarnya gue pengen banget nulis kisah atau cerita gue selama skripsi.
Pengalaman tiap orang dalam skripsi mungkin beda beda, gue pengen menuliskan based on pengalaman gue yang TA berkelompok ini betapa sulitnya. Mungkin nama asli tokoh tokoh nyatanya pengen gue samarkan. Betapa geramnya gue dengan skripsi.
Skripsi benar benar cobaaan, skripsi bener bener ga pandang bulu.
Gue benar benar menderita akibat skripsi.
Makan ga teratur
Tidur ga teratur
Sering ngemil dan gendut
Sering sakit sakitan akibat skripsi.
Gue udah coba kerahkan dan beri yg terbaik.
Tapi inilah kenyataaannya.
Seminggu ini gue nangis.
Menyesakan sekali bukan?

Sabtu, 12 Agustus 2017

Ridhonya Allah dari restunya Orang Tua

Kali ini aku akan bercerita banyak tentang pentingnya mendapatkan restu orang tua, based on pengalaman pribadi.
Ada satu yang nggak beririsan langsung dengan logika kita, yaitu restu orang tua. Mungkin di tv-tv kita sering melihat anak yang nggak di restui tindakannya oleh orang tua banyak yang pada akhirnya sengsara. Dulu aku selalu beranggap kalau itu hanyalah fiktif belaka, atau kebetulan.

Dari dulu aku anak yang patuh dan menurut apa kata orang tua. Bisa di bilang aku jarang sekali menyakiti hati orang tuaku. Aku tidak pernah protes dengan berapapun uang jajan yang tuaku kasih. Bahkan aku ingin membantu mereka. Aku senang membawakan belanjaan ibu di pasar dan membantu ibu di dapur. 

Aku tetaplah seorang anak, dan juga manusia biasa. Ada kalanya aku khilaf. Sebelum semester 8, saat libur semester aku pulang. Yang namanya orang tua, semakin bertambah umur, banyak sakit di badan, nyinyir dan perasaannya sensitif. Saat itu ayah tidak ada di rumah, ibu sudah badmood sedari tadi pagi mulai dari tetangga yang menyebalkan, dan adikku yang tidak membantu pekerjaan rumah. Seharian itu ibuku penuh sindirian terhadap aku dan adikku, hari itu aku bangun kesiangan, karena pola tidurku yang rusak gara-gara sering begadang akibat tugas besar. Sampai akhirnya saat malam aku kesal, dengan ibuku yang nadanya juga kesal, saling beradu mulut, sampai akhirnya saling menyakiti. Esoknya aku pergi dari rumah,aku pergi ke rumah nenekku lebih seminggu. Akhirnya aku kembali ke rumah untuk berkemas ke bandung. Sebelum pergi aku sempat minta maaf dan berbaikan dengan ibu. Aku memasuki semester baru, akademikku baik-baik saja, hubunganku dengan ibu baik-baik saja.

Waktu berjalan begitu cepat tak terasa berlalu sudah 5 bulan. Teman-temanku sudah sidang. Sedangkan kelompokku masih juga belum seminar proposal. Begitu sulit mengumpulkan ke 5 dosen. Waktu terus berlalu, libur pun telah tiba, aku pulang tanpa membawa gelar sarjana. Di rumah aku lebih tenang. Aku tetap mengerjakan laporan tugas akhirku. Bahkan sampai jam setengah 3 pagi. Jam 3 pagi aku memasak sahur untuk ibu dan adikku, setelah subuh aku baru tidur. Ibu selalu memaklumi jika aku kesiangan karena kurang tidur. Tetapi aku tetap membantu membersihkan rumah, dan memasak.

Aku kembali ke bandung untuk menjalani seminar progress. Akhirnya berjalan lancar. 

Sidang TA masih belum bisa. Rekan sekelompokku masih ada yang belum selesai. Banyak dimensi dari mereka yang berubah, lagi-lagi itu berpengaruh pada hasil pekerjaanku. Dan perhitungan TA ku harus di revisi setiap saat.

Bulan agustus pun di mulai, kelompokku harus merencanakan sidang sedini mungkin, mengingat kebiasaan dosen-dosenku yang setiap saat kemana-mana, minggu depan ke Mars, minggu depannya lagi Baru balik dari black hole, ku sudah lelah dengan hal semacam ini. ketua dosen pun akan pergi haji, dan sudah cuti tanggal 20. Tidak ada jadwal dosen yang beririsan. Ku sudah hopeless. Aku nggak mau wisuda april. Aku menangis, kesal dan marah dengan kenyataan. Aku menelfon ke org tua ku,menjelaskan kondisi TA ku yang berantakan. Aku benar-benar lelah. Sudah begitu banyak energi yang ku kerahkan agar TA ini cepat selesai.

Aku kembali tersadar, mungkinkah ini karena masalahku dulu dengan orang tua?? .




Rabu, 09 Agustus 2017

Takdir atau nasib

Setiap makhluk di muka bumi ini pasti punya yang disebut takdir.

Apa yang disebut sesuatu itu telah menjadi takdir?
Meninggal, kecelakaan jatuhnya pesawat, mungkin itu takdir yang terjadi melalui perantara kelalaian manusia.

Entah tugas akhir ini dan kapan aku wisuda juga merupakan takdir?

Bisa jadi itu takdir. Dalam minggu ini aku di bayangi perasaan buruk bahwa aku tidak mendapat takdir untuk wisuda oktober. Aku tidak dapat menyalahkan siapa2. Semua terasa menyesak menyeruak. Rasa kesal, rasa marah, menyalahkan semua yang terjadi, ku bungkam semua, ku katakan pada diriku "berdamailah". Berusahalah semampuku sampai semaksimalku, jika yg ku harapkan tidak terjadi. Aku ingin berdamai dengan diriku, berdamai dengan arogan dan egoku.

Aku harus kuat, aku harus banyak belajar lagi. Aku harus tenang. Mungkin inilah diriku, mungkin inilah tiba masa gagalku. Roda kehidupan memang tidak selalu di atas, adakalanya di bawah, seperti yang kurasakan saat ini. "Jatuah tapai", kato urang awak, sulit melantun lagi. Dulu memang ambisi-ambisi dan target hidupku tercapai. Tapi sekarang mendapat giliran tidak tercapai atau di tunda.

Malu karena terlambat lulus?  Ya rasa malu itu pasti ada. Sebab org org selalu bertanya. Kenapa tugas akhirku? Ya begitulah banyak konfliknya, banyak benang kusut yang harus di urai. Aku sudah berusaha sekuat tenagaku, sekuat yang aku bisa. Benar benar sulit rasanya mendapatkan secarcik kertas yang disebut IJAZAH.

Ingin punya penghasilan dan melamar kerja pun? Aku belum bisa. Masih saja di ributkan oleh revisi sana sini. Dimensi kerjaan yang setiap saat berubah. Akupun lelah. Kapan akan selesainya? . Aku ingin bermain seperti sedia kala, aku ingin punya waktu untuk diriku. Ah tolonglah aku ingin tenang. Aku ingin tidurku tenang.

Ini adalah keadaan terburuk dalam hidupku, terburuk sekali.

Aku pun tak menyangka pernah se sabar hari ini. Dari hal ini aku benar2 belajar mengontrol emosiku, mengontrol hubungan baikku dengan org lain.

Biasanya aku mudah marah dan meledak. Tapi memang kekalutan tugas akhirku tidak membuat ku meledak seperti diriku yang lalu lalu. Tapi yang terjadi adalah isak tangis saat menghubungi orang tuaku. Ada perasaan dimana aku merasa bukan lagi menjadi anak yang membanggakan orang tua, yang terjadi aku semakin menyusahkan mereka, membuat mereka masih menanggung biaya kuliah dan biaya hidupku, dan membuat mereka malu. Mengecewakan harapan mereka yang berandai-andai melihatku memakai toga tahun ini.

Minggu, 30 Juli 2017

Menabung dan Segala Macam Manfaatnya

Banyak orang yang merasa kesulitan untuk menabung. Apalagi di era modern ini semuanya di jajakan di depan mata lewat dunia maya. Membuat masyarakat menjadi semakin konsumtif. Siapa yang tidak ngiler dengan barang-barang bagus, dan bermerk. Media online membuat orang yang awalnya tidak ada niat belanja menjadi belanja. Mungkin beda dengan dulu, dulu untuk belanja orang menyediakan uang dulu, baru ke toko atau ke pasar melihat barang-barang yang di inginkan baru, jika cocok baru membeli.

Tak ada masalah dengan keberadaan media online. Media online justru memberikan kita lebih banyak pilihan dan mempermudah mencari apa yang kita inginkan. Tapi yang penting adalah membeli barang sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan saja.

Menabung, seberapa penting sih menabung?

Baik, saya akan bercerita tentang laptop kesayangan saya ber merk Asus dengan processor Intel 5 dibeli seharga 7 juta. Laptop ini saya beli dari hasil tabungan saya dari hingga sma. Pas kuliah saya kesulitan menabung karena pengeluaran akademik saya sangatlah tinggi, baru bisa menabung lagi setelah semester 6 dengan bekerja freelance. 

Dari TK saya tinggal bersama nenek. Keluarga ibu saya adalah keluarga petani dan sekaligus berdagang. Kakek saya memiliki usaha penggilingan padi, berladang, berkebun, sekaligus memiliki kios penjualan beras secara eceran maupun grosiran. Karena tinggal bersama mereka, saya pun sering menjadi bagian logistik dari usaha mereka, seperti menjual biji coklat, menjaga kios minyak dan beras, menjaga jemuran padi, menjual telur angsa dan ayam, bahkan jadi tukang kasih makan ternak sekaligus selain itu juga menjadi tukang tagih hutang pada konsumen. Setiap usai pekerjaan itu, kakek selalu memberi saya semacam reward uang jajan.

Uang saya pun terkumpul. Dari kecil saya tidak terbiasa meminta uang jajan atau minta beli mainan. Jikalau saya memiliki mainan, itu atas inisiatif orang tua yang membelikan atau saya yang membeli mainan dengan uang saya sendiri. Uang yang saya kumpulkan saya titip ke kakek, dan dijadikan modal usaha lagi. Setiap bulannya uang yang saya titipkan diberi tamhan 5% dari modal. Itupun bukan saya yang memintatapi kakeklah yang secara suka rela memberinya.

Kelas 5 sd, saat itu musim sekali anak membeli kertas binder dan bindernya. Jadilah saya saat itu menjadi penjual kertas binder di sekolah, serta menjual buku binder dengan cicilan pun. Sambil menjual biji coklat biasanya saya juga membeli kertas binder yang akan saya jual. Penjualan saya pun cukup banyak, sampai adik kelas dan tetangga-tetanggapun membeli. 

Ketika SMP binder sudah tidak menjadi tren lagi, pekerjaan saya pun beralih menjadi pengajar les, tukang ketik soal ujian, tukang jaga warnet, dan hasilnya kembali saya tabung. Ketika kelas 2 SMP kakek pun meninggal. Uang hasil penjualan binder dan uang logistik bekerja dengan kakek saya tabung ke ibu. Dan ibu membekukannya dengan membelikannya dalam bentuk emas. Setiap tahunnya harga emas selalu naik, dan nilai rupiah tabungan saya pun juga ikut naik.

Dari kecil saya memang bukan tipe anak senang jajan atau membeli hal yang tidak perlu. Sampai sekarang pun kalau diajak ke bioskop saya tidak suka, buang2 uang saja. Bukan berarti saya tidak pernah menonton di bioskop. Saya lebih suka jalan-jalan, karena itu memang hobi saya.

Bagi saya sendiri menabung tak harus rutin. Saya menerapkan cara menabung seperti ini. Misalkan saya mendapat tambahan uang dari hak jajan saya, maka itu akan di ambil sebagai tabungan. Atau juga bisa, saya menabung dari penghematan yang saya lakukan. Misalkan saya berangkat ke kampus dengan jalan kaki, karena saya jalan kaki artinya saya tidak mengeluarkan ongkos, maka uang tersebut masuk dalam bentuk tabungan. Misalnya juga, jatah makan saya dalam 2 hari adalah 60 ribu. Karena saya meluangkan waktu untuk memasak, sehingga pengeluaran saya hanyalah 20 ribu untuk 2 hari. Maka, 40 ribu sisanya menjadi tabungan.

Dengan cara tersebutlah sampai sekarang saya bisa membeli apa yang saya mau. Karena saya tidak terbiasa meminta atau merengek pada orang tua. Dan orang tua saya memberi saya uang jajan tanpa saya memintanya. 

Berhemat bukan berarti pelit. Hemat adalah cara menghindari kemubaziran dan melakukan sesuatu pada tempatnya. Keadaan hidup dari kecil membuat saya harus membiasakan diri hidup hemat. Saat saya masih kecil orang tua saya membeli 1 petak rumah dengan mencicil setiap bulannya, saya sering sakit-sakitan karena daya tahan tubuh lemah. Gaji ayah setiap bulan habis untuk berobat dan mencicil rumah. Ketika berumur 5 tahun, kantor tempat ayah bekerja bankrut, dan ayah di PHK. Akhirnya ayah bekerja serabutan, jadi fasilitator, pengawas proyek dan sebagainya. Ekonomi keluarga kami merosot parah saat ayah mengganggur 1 tahun, dan sakit. Kami hidup dari uang tabungan selama ayah bekerja, ibu pun membantu perekonomian dengan gaji honorer nya sebagai guru smp tidak seberapa di tambah dengan menjual beras. Setiap ayah bekerja ibu selalu menyisihkan uang dapur untuk menabung. Kondisi proyek yang musiman, membuat ibu menjadi was-was dengan keuangan. Aku pun sebagai anak ikut mengerti, hal itu membuat aku tidak pernah meminta ini itu kepada orang tua selain kewajiban mereka seperti membayar uang masuk sekolah dan uang jajan atau ongkos sekolah. Di luar itu seperti beli hp pun tidak aku minta. Di sekolah pun aku tidak pernah les, aku hanya cukup belajar sendiri dari buku di perpustakaan. Kadang-kadang aku mendapat beasiswa waktu SMP, karena berhasil menjadi juara umum. 

Ketika SMA pun aku mencari SMA yang tidak membayar SPP dan tetap bagus. Seperti SMA ku dulu, SMA 1 Pariaman. Ketika kuliah di biayayi kuliah full 4 tahun dan mendapat biaya hidup. Aku merasa beruntung, aku menjadi salah satu anak yang tidak mampu, tetapi Allah memberikan kecerdasan yang bisa menunjang pendidikanku dan diperhatikan pendidikannya oleh pemerintah. Semenjak aku kuliah pun ekonomi keluargaku membaik, ayah tidak pernah lagi menganggur, dan rezeki tak terduga kadang juga sering datang. Dan alhamdulillah dengan menabung dan berhemat hidup kami tidak pernah meminjam uang dan dililit hutang.

Begitulah the power of saving pemirsa. 













Sabtu, 08 Juli 2017

Pertemanan nyata vs pertemanan maya

Pertemanan nyata, maksudnya adalah pertemanan yang kita hadapi di dunia nyata, kita berinteraksi langsung dengan orang lain, kita berbicara dan mendengar langsung apa yg mereka sampaikan, kita bisa melihat mimik wajah, gestur tubuh, mendengar nada suara dan kondisi sekitar mereka yang sedang berbicara.

Pertemanan maya, pertemanan yang terjadi akibat perkenalan di dunia maya misal melalui sosial media. Untuk mendapatkan teman di dunia maya sangatlah mudah hanya dengan sentuhan jari pada keyboard atau hp. Meskipun kita bisa mendengar langsung, melihat gestur langsung dari teman maya, namun tetap saya peetemanan di layar hp dan nyata akan sangat berbeda dampaknya.

Ketika kita tidak suka dengab pertemanan maya kita bisa saja memblok, menghapus pertemanan, dan lupakan. Tetapi lain dengan pertemanan nyata, ini sangatlah sulit, suka tidak suka, tidak bisa di blok begitu saja, mungkin bisa kita hentikan komunikasi atau urusan, tapi jujur saja ini akan membuat ada rasa tidak enak, bermusuhan, itu tidak akan enak bagi pihak manapun, ya begitulah. Makanya kita terkadang harus berhati hati dalam bercanda, berhati hati dalam bertanya, berhati hati dalam menggunakan lidah, lidah ini sangatlah tajam, sangatlah sulit mengontrolnya. Karena sasarannya adalah melukai hati dan perasaan orang lain. Begitupun kita, kita jugalah harus santun dan paham bahwa janganlah terlalu berlebihan menanggapi perkataan orang lain, tidak semua hal yang tidak enak di dengar itu maksudnya buruk, sering kali suatu maksud perkataan menjadi buruk karena cara penyampaiannya buruk. Menjadi pelajaran bagi kita agar berhati hatu dan memilih kata2 dan cara yang tepat untuk menyampaikan maksud kepada orang lain.

Hal yang mampu memnjaga hubungan dengan orang lain selain menahan lidah baik pada pertemanan maya maupun nyata adalah sabar. Banyak orang yang rusak hubungannya dengan orang lain akibat tidak adanya rasa sabar. Kadang memang sering terjadi hal yang menjengkelkan seperti berjanji datang terlambat, tidak cepat memberi kabar, tiba tiba naik darah. Tapi rasa jengkel dan kesal itu hanyalah emosi sesaat, tahanlah, ucapkan istighfar, kejadian kejadian terjadi adalah atas izin Allah. Contohnya mereka terlambat ketika berjanji, ya itu atas izin Allah. Disini bukan bermaksud mengatakan bahwa Allahlah yang salah, tetapi sama sama kita ketahui, Allah maha berkehendak, maha mengetahui, maka tidak ada daya dan upaya kita melawan ketentuan dan kehendak Allah.