Rabu, 07 Juni 2017

Cobaan Tugas Akhir

Harusnya saat ini saya mengerjakan tugas akhir, tapi jujur aja lagi jenuh. Selama pengerjaan tugas akhir ini sudah 3 kali jatuh sakit, 2 kali demam pilek, dan 1 kali diare  selama 4 hari sampai dehidrasi berat. Tugas akhir adalah pekerjaan yang sangat menyita waktu, pikiran dan kesabaran. Biasanya bisa di bilang saya jarang sakit, tetapi semenjak TA lebih tepatnya saya sering begadang karena sering kali menemukan inspirasi baru tengah malam, sampai karena kurang istirahat akhirnya daya tahan saya melemah. Terkadang yang membuat saya banyak pikiran adalah tak selalu masalah hitungan TA nya, tetapi masalah-masalah eksternalnya, karena tugas akhir ini banyak sekali momen untuk terlibat dengan orang lain.

Pada postingan ini saya akan bahas apa-apa saya masalah ataupun cobaan yang saya lewati ataupun dari pengalaman teman saya yang melewati.

Waktu semester-semester awal kuliah, saya sering berpikir, kenapa sih kok banyak banget mahasiswa tingkat akhir yang lulusnya ga tepat waktu, galau TA, bunuh diri, bahkan sampai bunuh dosennya, padahal kan tingkat akhir itu sks nya udah dikit, trus bahkan ada yang cuma ngerjain TA aja. Tapi ternyata masalahnya ga sesimpel yang saya pikir. 

Di jurusan saya tugas akhir teknik sipil itu TA Desain Terpadu, bukan penelitian seperti skripsi, itu di perbolehkan untuk mahasiswa fasttrack. Saya dulu sempat khawatir dan ingin msengambil jalur fastrack karena ingin melarikan diri dari TA terpadu, saat itu saya sangat khawatir dengan kalau ikut TA terpadu ada kemungkinan saya akan bernasib tidak mujur, pasalnya TA terpadu ini prinsipnya ini di kelompokan menjadi 1 kelompok yang terdiri dari 5 orang, 5 dosen dan 5 kelompok keahlian. Yah bayangkan saja mencocokan jadwal dengan 2 dosen dan 1 mahasiswa saja sangatlah sulit, apalalagi 5 dosen dan dengan 5 mahasiswa. Ternyata kekhawatiran saya pun terjadi.

Kelebihan TA terpadu:
1. Melatih softskill (kerja sama, kesabaran, komunikasi, dan ketangguhan menghadapi dosen)
2. Topik ditentukan, dosen di pilihkan
3. Banyak sedikitnya mengerti 5 kelompok keahlian, walaupun masing-masing orang hanya mengerjakan 1 kelompok keahlian
4. Mahasiswa banyak yang bisa cepat lulus


Kekurangannya:
1. Nasib bisa untung bisa rugi, bisa aja dapat dosen yang enak, atau jadi apes. Atau juga bisa aja dapat kelompok yang enak atau malah apes
2. Bisa saja dapat proyek yang mudah atau malah terbilang agak apes kayak kelompokku.
3. Tidak imbangnya pembagian tugas masing-masing KK

Saya menulis postingan ini di tengah galau gulana, di media sosial bertebaran foto-foto teman angkatan saya 1 kampus usai sidang TA. Sayapun pengen lulus bulan ini dan wisuda bulan depan, tapi takdir berkata lain saya memutuskan wisuda oktober dan sidang tugas akhir setelah lebaran. Saya pun iri melihat teman teman lain, sementara keadaan kelompok saya begini adanya. Berawal dari seminar proposal yang molor 2 bulan, ketika teman-teman saya yang lainnya sudah seminar progress sementara kelompok saya seminar proposal pun belum. Dan sekarang ketika teman-teman saya sudah menjamur yang S.T , sementara kelompok TA saya pun belum sidang progress dan akan di tunda sampai selesai lebaran.

6 hari yang lalu saya sakit, usai berpikir keras bimbang antara ingin pulang atau tidak. Bagi saya sangat tidak nyaman merasakan puasa di rantau, awalnya demi TA saya rela saja disini, saat itu saya stress melihat progress kelompok kami yang belumlah begitu jauh, kemudian makin di perpusing lagi dengan keadaan salah satu dosen sangat super sibuk, sulit di hubungi, kalau mau berurusan harus kejar-kejaran di kampus, nungguin depan ruangan dia mengajar, jangan ngarep wa atau sms akan di balas, ini yang dulunya sulit netapin tanggal seminar proposal dan sekarang  seminar progress juga.

Saya tidak menyalahkan teman-teman di kelompok saya, saya melihat mereka berjuang seperti juni teman saya yang mengerjakan struktur, yang na'uzubillah min zalik susah bikin rangka atapnya di SAP. Khalif yang sana sini, baca jurnal ini itu, cari code ini itu bukan cuma buat desain parkirnya tapi belajar monorelnya juga, einil yang bikin RWA dan drainase, dosennya prajabatan lama banget, dan Nico yang dosennya susah di temuin. Sejauh ini saya bersyukur punya teman sekelompok yang tingkat kesabarannya tinggi, terutama Khalif sebagai ketua yang super duper sabar. Saya satu-satunya perempuan di kelompok itu dan orang yang paling cepat naik darah kalau dengar dosen ga bisa tgl seginilah, nolak data tanahnya lah dan banyak masalah di kelompok kami. Kadang saya iri melihat kelompok lain yang di perhatikan oleh dosen-dosen mereka, bahkan ada dosen dari mereka yang sampai ngunjungin saat mengerjakan TA di studio, sementara kami (bukannya tidak mensyukuri), mendapat balasan sms saja sulit (memang tidak semua dosen, tetapi beberapa dosen ada, dan ini sangatlah menyulitkan kami untuk menetapkan tanggal dan kapan kami seminar.

Sampai akhirnya saya menetapkan untuk pulang ke kampung dulu hingga usai lebaran, sempat saya sedih rasanya ditinggal 85% teman angkatan yangakan wisuda juli, sementara kelompok saya masih luntang lantung dengan nasib yang entah kapan seminar progress. Sedih mengingat saya harus lebih lama lagi membayar kos di bandung, lebih lama lulus, berbanding lurus dengan biaya yang di keluarkan juga. Saya akan tetap berusaha dan berdoa semoga Allah menguatkan pundak dan meningkatkan kesabaran kelompok saya dalam menghadapi sulitnya tugas akhir kami. Amiin.



*#RamadhanInspiratif*
*#Challenge*
*#Aksara*


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar