Minggu, 30 Juli 2017

Menabung dan Segala Macam Manfaatnya

Banyak orang yang merasa kesulitan untuk menabung. Apalagi di era modern ini semuanya di jajakan di depan mata lewat dunia maya. Membuat masyarakat menjadi semakin konsumtif. Siapa yang tidak ngiler dengan barang-barang bagus, dan bermerk. Media online membuat orang yang awalnya tidak ada niat belanja menjadi belanja. Mungkin beda dengan dulu, dulu untuk belanja orang menyediakan uang dulu, baru ke toko atau ke pasar melihat barang-barang yang di inginkan baru, jika cocok baru membeli.

Tak ada masalah dengan keberadaan media online. Media online justru memberikan kita lebih banyak pilihan dan mempermudah mencari apa yang kita inginkan. Tapi yang penting adalah membeli barang sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan saja.

Menabung, seberapa penting sih menabung?

Baik, saya akan bercerita tentang laptop kesayangan saya ber merk Asus dengan processor Intel 5 dibeli seharga 7 juta. Laptop ini saya beli dari hasil tabungan saya dari hingga sma. Pas kuliah saya kesulitan menabung karena pengeluaran akademik saya sangatlah tinggi, baru bisa menabung lagi setelah semester 6 dengan bekerja freelance. 

Dari TK saya tinggal bersama nenek. Keluarga ibu saya adalah keluarga petani dan sekaligus berdagang. Kakek saya memiliki usaha penggilingan padi, berladang, berkebun, sekaligus memiliki kios penjualan beras secara eceran maupun grosiran. Karena tinggal bersama mereka, saya pun sering menjadi bagian logistik dari usaha mereka, seperti menjual biji coklat, menjaga kios minyak dan beras, menjaga jemuran padi, menjual telur angsa dan ayam, bahkan jadi tukang kasih makan ternak sekaligus selain itu juga menjadi tukang tagih hutang pada konsumen. Setiap usai pekerjaan itu, kakek selalu memberi saya semacam reward uang jajan.

Uang saya pun terkumpul. Dari kecil saya tidak terbiasa meminta uang jajan atau minta beli mainan. Jikalau saya memiliki mainan, itu atas inisiatif orang tua yang membelikan atau saya yang membeli mainan dengan uang saya sendiri. Uang yang saya kumpulkan saya titip ke kakek, dan dijadikan modal usaha lagi. Setiap bulannya uang yang saya titipkan diberi tamhan 5% dari modal. Itupun bukan saya yang memintatapi kakeklah yang secara suka rela memberinya.

Kelas 5 sd, saat itu musim sekali anak membeli kertas binder dan bindernya. Jadilah saya saat itu menjadi penjual kertas binder di sekolah, serta menjual buku binder dengan cicilan pun. Sambil menjual biji coklat biasanya saya juga membeli kertas binder yang akan saya jual. Penjualan saya pun cukup banyak, sampai adik kelas dan tetangga-tetanggapun membeli. 

Ketika SMP binder sudah tidak menjadi tren lagi, pekerjaan saya pun beralih menjadi pengajar les, tukang ketik soal ujian, tukang jaga warnet, dan hasilnya kembali saya tabung. Ketika kelas 2 SMP kakek pun meninggal. Uang hasil penjualan binder dan uang logistik bekerja dengan kakek saya tabung ke ibu. Dan ibu membekukannya dengan membelikannya dalam bentuk emas. Setiap tahunnya harga emas selalu naik, dan nilai rupiah tabungan saya pun juga ikut naik.

Dari kecil saya memang bukan tipe anak senang jajan atau membeli hal yang tidak perlu. Sampai sekarang pun kalau diajak ke bioskop saya tidak suka, buang2 uang saja. Bukan berarti saya tidak pernah menonton di bioskop. Saya lebih suka jalan-jalan, karena itu memang hobi saya.

Bagi saya sendiri menabung tak harus rutin. Saya menerapkan cara menabung seperti ini. Misalkan saya mendapat tambahan uang dari hak jajan saya, maka itu akan di ambil sebagai tabungan. Atau juga bisa, saya menabung dari penghematan yang saya lakukan. Misalkan saya berangkat ke kampus dengan jalan kaki, karena saya jalan kaki artinya saya tidak mengeluarkan ongkos, maka uang tersebut masuk dalam bentuk tabungan. Misalnya juga, jatah makan saya dalam 2 hari adalah 60 ribu. Karena saya meluangkan waktu untuk memasak, sehingga pengeluaran saya hanyalah 20 ribu untuk 2 hari. Maka, 40 ribu sisanya menjadi tabungan.

Dengan cara tersebutlah sampai sekarang saya bisa membeli apa yang saya mau. Karena saya tidak terbiasa meminta atau merengek pada orang tua. Dan orang tua saya memberi saya uang jajan tanpa saya memintanya. 

Berhemat bukan berarti pelit. Hemat adalah cara menghindari kemubaziran dan melakukan sesuatu pada tempatnya. Keadaan hidup dari kecil membuat saya harus membiasakan diri hidup hemat. Saat saya masih kecil orang tua saya membeli 1 petak rumah dengan mencicil setiap bulannya, saya sering sakit-sakitan karena daya tahan tubuh lemah. Gaji ayah setiap bulan habis untuk berobat dan mencicil rumah. Ketika berumur 5 tahun, kantor tempat ayah bekerja bankrut, dan ayah di PHK. Akhirnya ayah bekerja serabutan, jadi fasilitator, pengawas proyek dan sebagainya. Ekonomi keluarga kami merosot parah saat ayah mengganggur 1 tahun, dan sakit. Kami hidup dari uang tabungan selama ayah bekerja, ibu pun membantu perekonomian dengan gaji honorer nya sebagai guru smp tidak seberapa di tambah dengan menjual beras. Setiap ayah bekerja ibu selalu menyisihkan uang dapur untuk menabung. Kondisi proyek yang musiman, membuat ibu menjadi was-was dengan keuangan. Aku pun sebagai anak ikut mengerti, hal itu membuat aku tidak pernah meminta ini itu kepada orang tua selain kewajiban mereka seperti membayar uang masuk sekolah dan uang jajan atau ongkos sekolah. Di luar itu seperti beli hp pun tidak aku minta. Di sekolah pun aku tidak pernah les, aku hanya cukup belajar sendiri dari buku di perpustakaan. Kadang-kadang aku mendapat beasiswa waktu SMP, karena berhasil menjadi juara umum. 

Ketika SMA pun aku mencari SMA yang tidak membayar SPP dan tetap bagus. Seperti SMA ku dulu, SMA 1 Pariaman. Ketika kuliah di biayayi kuliah full 4 tahun dan mendapat biaya hidup. Aku merasa beruntung, aku menjadi salah satu anak yang tidak mampu, tetapi Allah memberikan kecerdasan yang bisa menunjang pendidikanku dan diperhatikan pendidikannya oleh pemerintah. Semenjak aku kuliah pun ekonomi keluargaku membaik, ayah tidak pernah lagi menganggur, dan rezeki tak terduga kadang juga sering datang. Dan alhamdulillah dengan menabung dan berhemat hidup kami tidak pernah meminjam uang dan dililit hutang.

Begitulah the power of saving pemirsa. 













Sabtu, 08 Juli 2017

Pertemanan nyata vs pertemanan maya

Pertemanan nyata, maksudnya adalah pertemanan yang kita hadapi di dunia nyata, kita berinteraksi langsung dengan orang lain, kita berbicara dan mendengar langsung apa yg mereka sampaikan, kita bisa melihat mimik wajah, gestur tubuh, mendengar nada suara dan kondisi sekitar mereka yang sedang berbicara.

Pertemanan maya, pertemanan yang terjadi akibat perkenalan di dunia maya misal melalui sosial media. Untuk mendapatkan teman di dunia maya sangatlah mudah hanya dengan sentuhan jari pada keyboard atau hp. Meskipun kita bisa mendengar langsung, melihat gestur langsung dari teman maya, namun tetap saya peetemanan di layar hp dan nyata akan sangat berbeda dampaknya.

Ketika kita tidak suka dengab pertemanan maya kita bisa saja memblok, menghapus pertemanan, dan lupakan. Tetapi lain dengan pertemanan nyata, ini sangatlah sulit, suka tidak suka, tidak bisa di blok begitu saja, mungkin bisa kita hentikan komunikasi atau urusan, tapi jujur saja ini akan membuat ada rasa tidak enak, bermusuhan, itu tidak akan enak bagi pihak manapun, ya begitulah. Makanya kita terkadang harus berhati hati dalam bercanda, berhati hati dalam bertanya, berhati hati dalam menggunakan lidah, lidah ini sangatlah tajam, sangatlah sulit mengontrolnya. Karena sasarannya adalah melukai hati dan perasaan orang lain. Begitupun kita, kita jugalah harus santun dan paham bahwa janganlah terlalu berlebihan menanggapi perkataan orang lain, tidak semua hal yang tidak enak di dengar itu maksudnya buruk, sering kali suatu maksud perkataan menjadi buruk karena cara penyampaiannya buruk. Menjadi pelajaran bagi kita agar berhati hatu dan memilih kata2 dan cara yang tepat untuk menyampaikan maksud kepada orang lain.

Hal yang mampu memnjaga hubungan dengan orang lain selain menahan lidah baik pada pertemanan maya maupun nyata adalah sabar. Banyak orang yang rusak hubungannya dengan orang lain akibat tidak adanya rasa sabar. Kadang memang sering terjadi hal yang menjengkelkan seperti berjanji datang terlambat, tidak cepat memberi kabar, tiba tiba naik darah. Tapi rasa jengkel dan kesal itu hanyalah emosi sesaat, tahanlah, ucapkan istighfar, kejadian kejadian terjadi adalah atas izin Allah. Contohnya mereka terlambat ketika berjanji, ya itu atas izin Allah. Disini bukan bermaksud mengatakan bahwa Allahlah yang salah, tetapi sama sama kita ketahui, Allah maha berkehendak, maha mengetahui, maka tidak ada daya dan upaya kita melawan ketentuan dan kehendak Allah.

Sebagai Makhluk Sosial

Manusia di ciptakan bukan hanya sebagai makhluk individual tetapi juga makhluk sosial, karena manusia akan membutuhkan manusia yang lainnya. Kemampuan setiap orang menjalani kehidupan sosial dan kehidupan pribadinya akan berbeda beda. Berbeda lingkungan yang membentuk, berbeda pula kharakternya. Ada manusia yang cepat dewasa ada pula yang tidak. Perbedaan itu akan tetap rukun apabila ada pihak yang saling mengimbangi. Misalnya dua org sahabat akan tetap terus bisa bersahabat apabila 2 orang itu saling mengimbangi. A dan B bersahabat, A egois, B mengerti dengan ke egoisan A. Maka 2 orang ini akan tetap utuh, tapi B punya batas kesabaran, B sesekali menyadarkan A bahwa ia terlalu egois, cobalah menekan ego. A akan merenungkan perbuatannya, dan merubah sikap.

Ayah selalu bercerita bagaimana harus menjaga hubungan baik dengan orang lain dan menekan egoisme kita. Ya ayah benar, aku ingin menjaga hubungan sosial yang baik dengan orang lain, aku akan berusaha menekan egoku. Ya Allah ampunilah hamba yang mungkin sering menyakiti perasaan orang lain, atau pernah memutus tali silahturahmi dengan orang lain. Mungkin hamba belum dewasa menghadapi permasalahan hidup, mungkin hamba harus banyak belajar. Ya Allah bukakanlah hati orang lain untuk memaafkan hamba, hamba tidak ingin ada kesalahpahaman, kebencian, dan ketidakrelaan orang lain terhadap hamba. Selama ini hamba banyak salah ya Allah.