Sabtu, 12 Agustus 2017

Ridhonya Allah dari restunya Orang Tua

Kali ini aku akan bercerita banyak tentang pentingnya mendapatkan restu orang tua, based on pengalaman pribadi.
Ada satu yang nggak beririsan langsung dengan logika kita, yaitu restu orang tua. Mungkin di tv-tv kita sering melihat anak yang nggak di restui tindakannya oleh orang tua banyak yang pada akhirnya sengsara. Dulu aku selalu beranggap kalau itu hanyalah fiktif belaka, atau kebetulan.

Dari dulu aku anak yang patuh dan menurut apa kata orang tua. Bisa di bilang aku jarang sekali menyakiti hati orang tuaku. Aku tidak pernah protes dengan berapapun uang jajan yang tuaku kasih. Bahkan aku ingin membantu mereka. Aku senang membawakan belanjaan ibu di pasar dan membantu ibu di dapur. 

Aku tetaplah seorang anak, dan juga manusia biasa. Ada kalanya aku khilaf. Sebelum semester 8, saat libur semester aku pulang. Yang namanya orang tua, semakin bertambah umur, banyak sakit di badan, nyinyir dan perasaannya sensitif. Saat itu ayah tidak ada di rumah, ibu sudah badmood sedari tadi pagi mulai dari tetangga yang menyebalkan, dan adikku yang tidak membantu pekerjaan rumah. Seharian itu ibuku penuh sindirian terhadap aku dan adikku, hari itu aku bangun kesiangan, karena pola tidurku yang rusak gara-gara sering begadang akibat tugas besar. Sampai akhirnya saat malam aku kesal, dengan ibuku yang nadanya juga kesal, saling beradu mulut, sampai akhirnya saling menyakiti. Esoknya aku pergi dari rumah,aku pergi ke rumah nenekku lebih seminggu. Akhirnya aku kembali ke rumah untuk berkemas ke bandung. Sebelum pergi aku sempat minta maaf dan berbaikan dengan ibu. Aku memasuki semester baru, akademikku baik-baik saja, hubunganku dengan ibu baik-baik saja.

Waktu berjalan begitu cepat tak terasa berlalu sudah 5 bulan. Teman-temanku sudah sidang. Sedangkan kelompokku masih juga belum seminar proposal. Begitu sulit mengumpulkan ke 5 dosen. Waktu terus berlalu, libur pun telah tiba, aku pulang tanpa membawa gelar sarjana. Di rumah aku lebih tenang. Aku tetap mengerjakan laporan tugas akhirku. Bahkan sampai jam setengah 3 pagi. Jam 3 pagi aku memasak sahur untuk ibu dan adikku, setelah subuh aku baru tidur. Ibu selalu memaklumi jika aku kesiangan karena kurang tidur. Tetapi aku tetap membantu membersihkan rumah, dan memasak.

Aku kembali ke bandung untuk menjalani seminar progress. Akhirnya berjalan lancar. 

Sidang TA masih belum bisa. Rekan sekelompokku masih ada yang belum selesai. Banyak dimensi dari mereka yang berubah, lagi-lagi itu berpengaruh pada hasil pekerjaanku. Dan perhitungan TA ku harus di revisi setiap saat.

Bulan agustus pun di mulai, kelompokku harus merencanakan sidang sedini mungkin, mengingat kebiasaan dosen-dosenku yang setiap saat kemana-mana, minggu depan ke Mars, minggu depannya lagi Baru balik dari black hole, ku sudah lelah dengan hal semacam ini. ketua dosen pun akan pergi haji, dan sudah cuti tanggal 20. Tidak ada jadwal dosen yang beririsan. Ku sudah hopeless. Aku nggak mau wisuda april. Aku menangis, kesal dan marah dengan kenyataan. Aku menelfon ke org tua ku,menjelaskan kondisi TA ku yang berantakan. Aku benar-benar lelah. Sudah begitu banyak energi yang ku kerahkan agar TA ini cepat selesai.

Aku kembali tersadar, mungkinkah ini karena masalahku dulu dengan orang tua?? .




Tidak ada komentar:

Posting Komentar