Rabu, 09 Agustus 2017

Takdir atau nasib

Setiap makhluk di muka bumi ini pasti punya yang disebut takdir.

Apa yang disebut sesuatu itu telah menjadi takdir?
Meninggal, kecelakaan jatuhnya pesawat, mungkin itu takdir yang terjadi melalui perantara kelalaian manusia.

Entah tugas akhir ini dan kapan aku wisuda juga merupakan takdir?

Bisa jadi itu takdir. Dalam minggu ini aku di bayangi perasaan buruk bahwa aku tidak mendapat takdir untuk wisuda oktober. Aku tidak dapat menyalahkan siapa2. Semua terasa menyesak menyeruak. Rasa kesal, rasa marah, menyalahkan semua yang terjadi, ku bungkam semua, ku katakan pada diriku "berdamailah". Berusahalah semampuku sampai semaksimalku, jika yg ku harapkan tidak terjadi. Aku ingin berdamai dengan diriku, berdamai dengan arogan dan egoku.

Aku harus kuat, aku harus banyak belajar lagi. Aku harus tenang. Mungkin inilah diriku, mungkin inilah tiba masa gagalku. Roda kehidupan memang tidak selalu di atas, adakalanya di bawah, seperti yang kurasakan saat ini. "Jatuah tapai", kato urang awak, sulit melantun lagi. Dulu memang ambisi-ambisi dan target hidupku tercapai. Tapi sekarang mendapat giliran tidak tercapai atau di tunda.

Malu karena terlambat lulus?  Ya rasa malu itu pasti ada. Sebab org org selalu bertanya. Kenapa tugas akhirku? Ya begitulah banyak konfliknya, banyak benang kusut yang harus di urai. Aku sudah berusaha sekuat tenagaku, sekuat yang aku bisa. Benar benar sulit rasanya mendapatkan secarcik kertas yang disebut IJAZAH.

Ingin punya penghasilan dan melamar kerja pun? Aku belum bisa. Masih saja di ributkan oleh revisi sana sini. Dimensi kerjaan yang setiap saat berubah. Akupun lelah. Kapan akan selesainya? . Aku ingin bermain seperti sedia kala, aku ingin punya waktu untuk diriku. Ah tolonglah aku ingin tenang. Aku ingin tidurku tenang.

Ini adalah keadaan terburuk dalam hidupku, terburuk sekali.

Aku pun tak menyangka pernah se sabar hari ini. Dari hal ini aku benar2 belajar mengontrol emosiku, mengontrol hubungan baikku dengan org lain.

Biasanya aku mudah marah dan meledak. Tapi memang kekalutan tugas akhirku tidak membuat ku meledak seperti diriku yang lalu lalu. Tapi yang terjadi adalah isak tangis saat menghubungi orang tuaku. Ada perasaan dimana aku merasa bukan lagi menjadi anak yang membanggakan orang tua, yang terjadi aku semakin menyusahkan mereka, membuat mereka masih menanggung biaya kuliah dan biaya hidupku, dan membuat mereka malu. Mengecewakan harapan mereka yang berandai-andai melihatku memakai toga tahun ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar